Obat Ranitidine untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Obat ranitidine

Obat ranitidine merupakan obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Ranitidine mengobati sejumlah penyakit, seperti tungkak lambung, gastroesophageal reflux disease (GERD), esofagitis erosif, atau sindrom Zollinger – Ellison. 

Penyakit-penyakit tersebut berkaitan dengan produksi asam lambung berlebih. Lalu bagaimana dengan keamanannya bagi ibu hamil dan menyusui?  

Ranitidine bagi ibu hamil dan menyusui

Dalam kondisi tertentu ranitidine diperbolehkan dikonsumsi ibu hamil dan menyusui. Untuk mengetahui kapan kondisi aman untuk mengonsumsinya, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai keamanan ranitidine bagi ibu hamil dan menyusui : 

  1. Ibu hamil

Berdasarkan US Food and Drug Administration (FDA), ranitidine masuk dalam kategori B bagi ibu hamil. Artinya, pernah dilakukan penelitian pada hewan dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada risiko yang ditimbulkan. Akan tetapi, tidak dilakukan penelitian langsung ke ibu hamil. 

Pada dasarnya, selama kehamilan disarankan untuk mengobati penyakit tanpa mengonsumsi obat-obatan. Dokter mungkin akan meringankan gejala asam lambung dengan cara membatasi makanan berlemak tinggi dan pedas. Dokter juga akan menyarankan tidur dengan posisi kepala naik setinggi 10-20 cm sehingga lebih tinggi dari posisi perut. Cara ini diharapkan menghentikan asam lambung naik ke tenggorokan. 

Akan tetapi, jika cara-cara tersebut tidak berhasil, obat seperti ranitidine mungkin akan diresepkan.  

  1. Ibu menyusui

Obat ranitidine diketahui dapat meningkatkan kadar prolaktin pada ibu menyusui. Belum ada data tentang efek samping khusus bagi ibu menyusui. Akan tetapi, terdapat kadar ranitidine yang ikut keluar bersama ASI, namun dalam jumlah kecil dan tidak berbahaya bagi bayi. Jika bayi Anda prematur, konsultasikan kondisi Anda terlebih dahulu ke dokter.  

Sebuah studi menunjukkan dosis ranitidine pada ASI kurang dari dosis yang biasanya diberikan pada bayi baru lahir. Meskipun demikian pada tahun 2020 ranitidine dikeluarkan dari pasar Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya karena dinilai sebagai pemicu kanker. 

Efek ranitidine bagi penderita penyakit tertentu

Ranitidine tidak akan bekerja optimal bahkan menimbulkan efek samping buruk pada penderita penyakit tertentu. Berikut ini beberapa penderita penyakit tertentu yang tidak disarankan mengonsumsi ranitidine:  

  • Penyakit ginjal 

Penderita penyakit ginjal tidak dapat membuang sisa metabolisme obat ranitidine dengan baik. Kadar ranitidine yang tersisa di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai efek samping. 

  • Penyakit hati

Sebagian besar metabolisme obat terjadi di hati. Jika hati bermasalah, maka metabolisme ranitidine akan terganggu. Kadar ranitidine di dalam tubuh pun akan meningkat. 

  • Penyakit porfiria akut 

Penderita porfiria akut tidak diperbolehkan mengonsumsi ranitidine karena dapat memicu serangan porfiria akut berikutnya. 

  • Kanker lambung 

Ranitidine mengurangi kadar asam di dalam perut, namun berbeda halnya dengan penderita penyakit kanker lambung, meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan saluran pencernaan. Obat ini tidak mengobati kanker. 

Efek ranitidine bagi anak-anak dan lansia

Anak-anak dan lansia memiliki metabolisme berbeda dari tahapan umur lainnya. Berikut ini keamanan dan efektivitas ranitidine bagi anak-anak dan lansia. 

  • Anak-anak

Obat ranitidine belum dapat dipastikan aman dan efektif bagi anak-anak berusia di bawah 1 bulan untuk kondisi apapun. 

  • Lansia

Fungsi ginjal pada lansia berbeda dengan kondisinya saat masih muda. Oleh karena itu, metabolismenya pun melambat. Akibatnya, lebih banyak kadar ranitidine yang tertahan di dalam tubuh dalam waktu lama. Efek samping pun dapat meningkat. Dalam kasus yang jarang terjadi, ranitidine dapat menyebabkan kebingungan, agitasi, depresi, dan halusinasi. Efek samping tersebut paling sering terjadi pada lansia yang menderita penyakit kronis.