Yogurt Rendah Lemak Tidak Selalu Sehat

Yogurt adalah salah satu produk susu fermentasi paling populer yang dibuat dengan menambahkan bakteri hidup ke dalam susu. Saat ini pun sudah banyak produk yogurt, dari yang memiliki berbagai macam rasa hingga rendah lemak.

Yogurt sering digunakan sebagai bagian dari makanan atau makanan ringan, serta komponen saus dan makanan penutup. Selain itu, yogurt mengandung bakteri menguntungkan dan dapat berfungsi sebagai probiotik, memberikan berbagai manfaat kesehatan. 

Anda mungkin berpikir bahwa yogurt rendah lemak atau tanpa lemak merupakan pilihan yang sehat, tetapi sebenarnya yogurt jenis ini dikemas dengan banyak gula.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS merekomendasikan untuk mengkonsumsi hanya sekitar 50 gram total gula per hari, dan pedoman diet terbaru menyarankan orang dewasa mendapatkan tidak lebih dari 10% kalori harian mereka dari tambahan gula.

Namun satu porsi yogurt rendah lemak dapat mengandung sebanyak 30 gram gula, hal ini adalah 60% dari batas harian Anda.

Alasan mengapa yogurt rendah lemak sering memiliki banyak gula adalah karena mereka tidak memiliki banyak lemak. Jadi untuk membuat yogurt rendah lemak terasa lebih enak, yogurt tersebut ditambahkan gula, baik sebagai gula tebu, sirup jagung, atau fruktosa.

Berbeda dengan yogurt penuh lemak, produk ini cenderung memiliki sedikit gula karena susu secara alami memiliki rasa manis sehingga memberikan rasa yang enak.

Pada umumnya, yoghurt memiliki lemak trans yang disebut lemak trans ruminansia atau lemak trans susu. Lemak trans ruminansia yang paling melimpah dalam yogurt adalah asam vaksinat dan conjugated linoleic acid (CLA). 

Menurut penelitian, conjugated linoleic acid memiliki banyak manfaat kesehatan. Namun, yogurt rendah lemak hanya mengandung sedikit conjugated linoleic acid (CLA) dibandingkan dengan yogurt biasa.

Jika Anda ingin makan yogurt rendah lemak agar menjadi lebih sehat, periksa terlebih dahulu label nutrisinya.