Simak 6 Cara Pengolahan Agar Makanan Tahan Lama

Jika di suatu tempat terjadi produksi bahan pangan yang melimpah, dibutuhkan cara pengolahan yang tepat agar bahan pangan tersebut tetap bisa dikonsumsi beberapa waktu ke depan. Tak hanya itu, jarak tempuh dalam pendistribusian makanan juga membutuhkan teknik pengolahan khusus agar kualitasnya tidak menurun. Berikut merupakan cara pengolahan agar makanan tahan lama:

  • Pengasinan

Pengasinan atau penggaraman merupakan teknik pengawetan yang telah digunakan berabad-abad lalu. Garam memiliki sifat bekteriosidal dan bakteriostatik. Kedua sifat tersebut mampu menghambat bahkan membunuh bakteri penyebab kebusukan. Hal ini berhubungan dengan tekanan osmosis yang menghilangkan kadar air bahan pangan.

Makanan yang terkenal dengan teknik pengasinannya yaitu ikan asin, telur asin, bahkan sayuran. Akan tetapi, perlu diwaspadai konsumsi makanan tahan lama akibat pengasinan ini, terutama bagi penderita hipertensi dan edema (pembengkakan di bagian tubuh tertentu). Pembatasan konsumsi garam perlu dilakukan agar tidak memperparah kondisi penyakit. 

  • Pemanisan

Sama seperti proses pengasinan, kadar air dalam bahan pangan akan ditarik keluar dan digantikan oleh gula. Bahan pangan pun berubah menjadi manis dan tak jarang jika terdapat perubahan warna karena proses pengkristalan gula. Tekstur bahan pangan berubah menjadi keras dan berekerut saat penyimpanan. Bakteri penyebab kebusukan di dalamnya pun akan berkurang atau hilang seiring tekanan osmosis saat perendaman gula.

Makanan yang sering diawetkan menggunakan gula contohnya manisan buah. Namun, makanan ini perlu diwaspadai penderita diabetes mellitus. Sebaiknya penderita menghindari makanan atau minuman yang mengandung tinggi gula karena akan meningkatkan kadar gula darah.

  • Pendinginan

Menurun U.S Department of Agriculture (USDA), bakteri akan hidup dan tumbuh pada suhu 4°C – 60°C. Jika bahan pangan disimpan dibawah suhu 4°C maka kemungkinan bahan pangan akan terhindar dari bahaya bakteri penyebab kerusakan, bakteri pembusuk, serta bakteri yang menyebabkan berubahnya rasa, tekstur, dan bau.

Anda dapat menyimpan makanan agar tahan lama di refrigerator atau freezer. Apabila bahan pangan berupa daging, diperkirakan mampu bertahan selama 3 hari di refrigerator dan akan bertahan 2-6 bulan di freezer. Untuk sayur dan buah, cukup simpan di refrigerator dan masukkan ke dalam wadah tertutup untuk menghindari kontaminasi dengan bahan lain.  

  • Pengalengan

Terdapat 3 langkah utama dalam proses pengalengan, diantaranya tahap proses, penyegelan, dan pemanasan. Pada tahap pemanasan inilah bakteri yang menyebabkan kebusukan dihilangkan sehingga makanan terhindar dari kerusakan bahan pangan. Segel yang terutup rapat menghalau kontaminasi bakteri dari luar.

Bahan pangan yang biasanya diawetkan dengan cara kaleng yaitu buah, plong-polongan, daging, dan sebagainya. Namun, Anda perlu waspada ketika memilih makanan kaleng. Perhatikan kemasan kaleng dan pastikan tidak bocor serta tidak penyok. Kaleng yang penyok merupakan salah satu pertanda kontaminasi bakteri Clostrodium botulinum yang dapat mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian pada konsumen.

  • Pengeringan dan pengasapan

Cara ini telah digunakan masyarakat zaman dahulu untuk menyimpan makanan yang mereka miliki. Pengeringan dan pengasapan mengurangi kadar air di bahan pangan dalam jumlah banyak sehingga mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur. Asap juga meminimalisir datangnya serangga pembawa bakteri. Bahan pangan pun terhindar dari proses pembusukan sekaligus meningkatkan cita rasa.

Hasil pengawetan dengan cara pengeringan dan pengasapan yang paling terkenal yaitu ikan asap. Akan semakin lezat, jika pengasapan dilakukan menggunakan bahan pembakar kayu.   

  • Sterilisasi dan pasteurisasi

Selama ini, sterilisasi dan pasteurisasi identik hanya dilakukan pada minuman. Padahal makanan juga bisa mengalami proses sterilisasi dan pasteurisasi, biasanya terjadi pada makanan kaleng. Pasteurisasi dilakukan pada suhu yang lebih rendah dibanding sterlilisasi, yakni sekitar 72°C. Sementara steriliasasi dipanaskan pada suhu sekitar 138°C.

Produk pasteurisasi meminimalisir kerusakan zat gizi akibat suhu tinggi, namun diharuskan untuk disimpan dalam refigerator. Sedangka produk sterilisasi memungkinkan lebih banyak terjadinya kerusakan zat gizi karena paparan suhu tinggi, namun bisa disimpan di suhu ruang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *