Ketamin: Fungsi, Indikasi, Dosis, dan Efek Samping

Ketamin merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk anestesi atau menghilangkan kesadaran. Jika seseorang diberikan ketamin, maka dapat membuat relaksasi dan hilangnya rasa sakit yang sedang dialami. Obat ini termasuk dalam kategori obat kelas III yang penggunaannya telah disetujui secara medis untuk keperluan di rumah sakit sebagai anestesi.

Sayangnya, obat ketamin juga sering disalahgunakan karena efek halusinogen, penenang, dan disosiatifnya. Orang banyak pula yang menggunakannya untuk mengobati depresi. Perlu Anda ketahui, penggunaan ketamin di luar dari ketentuan yang telah ditetapka adalah penggunaan yang tidak disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA).

Fungsi dan indikasi ketamin.

Ketamin digunakan dalam pengobatan manusia maupun hewan. Ketamin pada manusia dapat digunakan sebagai anestesi umum sebelum, selama, dan setelah operasi.

Obat ketamin disuntikkan ke otot atau diberikan melalui jalur intravena (IV). Cara ini dianggap aman sebagai obat bius, karena tidak menurunkan tekanan darah atau menurunkan laju pernapasan.

Obat bius ini juga sering digunakan di negara-negara miskin atau sedang mengalami bencana. Hal ini karena penggunaan ketamin tidak membutuhkan listrik, oksigen, atau staf terlatih.

Dalam pengobatan medis manusia, ketamin digunakan dalam prosedur, seperti:

  • Kateterisasi jantung.
  • Cangkok kulit.
  • Bedah ortopedi.
  • Operasi mata, telinga, hidung, dan tenggorokan.
  • Intervensi bedah kecil, seperti pencabutan gigi.

Hingga saat ini, FDA belum menyetujui penggunaan ketamin untuk depresi. Ini disebabkan data yang tersedia sangat terbatas dan potensi risiko obat yang dapat muncul harus benar-benar dipertimbangkan.

Dosis penggunaan ketamin.     

Penggunaan obat ketamin dapat ditelan, dihirup, disuntikkan, dan kadang-kadang juga dihisap dengan ganja atau tembakau. Efek ketamin muncul dalam waktu 30 detik setelah disuntikkan, 5 – 10 menit setelah dihirup, dan 20 menit setelah ditelan. Efeknya akan bertahan selama kurang lebih 45 – 90  menit.

Dikutip dari Drugs, dosis penggunaan ketamin yang ditetapkan adalah:

  • 75 – 125 mg melalui injeksi intramuskular (IM).
  • 60 – 250 mg melalui insuflasi (intranasal atau snorting).
  • 50 – 100 mg secara intravena (IV).
  • 200 – 300 mg secara oral (melalui mulut).

Efek samping ketamin.

Pengaruh ketamin pada setiap orang bisa berbeda-beda, bergantung pada kondisi kesehatan, kebiasaan mengonsumsi, penggunaan obat yang lain, serta dosisnya. Efek yang mungkin dialami setelah mengonsumsi ketamin, meliputi:

  • Merasa bahagia dan santai.
  • Berhalusinasi.
  • Bingung dan canggung.
  • Detak jantung dan tekanan darah meningkat.
  • Bicara cadel dan penglihatan kabur.
  • Merasa panik dan cemas.
  • Muntah.
  • Tidak peka terhadap nyeri.

Efek samping juga dapat terjadi jika Anda mengonsumsinya secara overdosis, yaitu:

  • Otot jadi kaku dan sulit bergerak.
  • Suhu tubuh dan detak jantung meningkat.
  • Kejang.
  • Koma.
  • Kematian.

Jika Anda mengonsumsi ketamin secara teratur, dalam jangka panjang dapat menyebabkan:

  • Sakit kepala.
  • Kilas balik.
  • Indra penciuman terganggu.
  • Perubahan suasana hati dan kepribadian.
  • Mudah depresi.
  • Konsentrasi memburuk.
  • Sindrom kandung kemih ketamin, yaitu kesulitan menahan kencing atau inkontinensia, sehingga menyebabkan ulserasi pada kandung kemih.
  • Sakit perut.
  • Masalah keuangan, pekerjaan, dan sosial.

Jika Anda berusaha menghentikan penggunaan ketamin pun tidaklah mudah, karena tubuh harus terbiasa berfungsi tanpanya. Gejala penarikan obat ketamin biasanya berlangsung selama 4 – 6 hari, meliputi:

  • Tubuh terus-menerus ‘mengidam’ ketamin.
  • Nafsu makan hilang.
  • Tubuh kelelahan.
  • Menggigil dan berkeringat.
  • Gelisah dan alami tremor.
  • Sering mimpi buruk, merasa cemas, hingga depresi.
  • Detak jantung cepat dan tidak beraturan.

Penggunaan jangka panjang ketamin juga dapat menyebabkan toleransi dan kecanduan. Maka dari itu, berhati-hatilah terhadap obat bius ini. Jangan menggunakan ketamin sembarangan, apalagi disalahgunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *