Catat! Berikut Cara-Cara Mengatasi Gejala Penyakit Meniere

Apakah Anda sudah pernah mendengar tentang penyakit meniere? Penyakit meniere adalah salah satu gangguan yang terjadi pada telinga. Penyakit ini umumnya memiliki gejala pusing sehingga memberikan efek seperti berputar.

Salah satu faktor yang memicu terjadinya gangguan ini adalah adanya penumpukan cairan pada telinga bagian dalam yang juga ternyata mengganggu sistem keseimbangan tubuh. Sayangnya, hingga saat ini penyebab atau alasan terjadinya penumpukan cairan tersebut masih belum diketahui secara jelas.

Selain adanya penumpukan cairan, penyakit meniere juga disebabkan oleh beberapa faktor, seperti buruknya sirkulasi cairan pada telinga, adanya gangguan sistem kekebalan tubuh, alergi, cedera kepala, migrain, infeksi virus seperti meningitis, hingga riwayat medis keluarga yang juga mengidap penyakit meniere.

Gejala pusing yang terjadi pada penyakit meniere umumnya terjadi selama 20 menit hingga berjam-jam lamanya. Kondisi tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu 24 jam. Mengingat bahwa kondisi tersebut sangat mengganggu, Anda perlu segera mengatasi gejala pusing tersebut agar tidak memicu pada kondisi yang lebih parah.

Cara mengatasi gejala penyakit meniere

Di bawah ini, terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan jika gejala meniere menyerang:

  • Konsumsi obat vertigo yang umumnya Anda minum.
  • Duduk dengan tenang atau berbaring.
  • Tutup mata Anda atau juga bisa dengan menetapkan padangan pada suatu benda yang berada di depan hadapan Anda.
  • Hindari perubahan kepala yang dilakukan secara mendadak.
  • Bergerak lah dengan perlahan secara berhati-hati.
  • Ketika gejala mulai mereda, bergeraklah secara perlahan sehingga tubuh dapat menyesuaikan kembali seperti kondisi semula.

Tips tersebut dapat Anda lakukan jika Anda sedang melakukan aktivitas yang berpotensi mengganggu keselamatan, baik diri Anda maupun orang lain. Tips tersebut sangat direkomendasikan untuk diterapkan ketika Anda sedang berkendara, berenang, menaiki tangga, dan juga ketika mengoperasikan mesin berat.

Jika gejala peusing tersebut sudah tidak dapat Anda atasi atau gejala tersebut diikuti dengan gejala muntah, maka segera konsultasikan kondisi Anda pada dokter. Pemeriksaan dini yang dilakukan berpeluang besar efektif dalam mengatasi gejala yang Anda rasakan. Selain itu, dengan berkonsultasi pada dokter, Anda pasti akan mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. 

Jenis Penyakit Kulit pada Anak yang Jarang Terjadi

Masa anak-anak memang paling mengasyikkan. Namun, tidak dapat dipungkiri, masa anak-anak juga merupakan masa dimana paling rentan terkena penyakit, salah satunya penyakit kulit. Ada beberapa jenis penyakit kulit yang sering terjadi pada anak-anak. Begitu juga sebaliknya, ada juga beberapa jenis penyakit kulit yang sangat jarang terjadi pada anak. Penasaran apa saja? Simak ulasan lengkap berikut.

  • Harlequin Ichthyosis

Jenis penyakit kulit ini diturunkan dan sangat langka terjadi pada anak. Penyakit ini dapat menyebabkan anak terlahir dengan kulit yang tebal dan kasar yang membentuk pola seperti wajik di sekujur tubuh. Pola wajik pada kulit ini dipisahkan oleh lipatan yang dalam, sehingga menyerupai kulit buaya. Jenis penyakit kulit ini juga dapat membuat penderitanya sulit untuk bergerak.

Risiko kematian besar terutama pada bayi yang baru lahir, karena mereka menjadi lebih rentan mengalami perubahan suhu, gangguan makan, infeksi, dan gangguan pernapasan. Jenis penyakit kulit ini tidak dapat disembuhkan karena penyebabnya dari faktor genetik. Upaya yang bisa dilakukan hanya meringankan gejala dengan menggunakan pelembap kulit sesering mungkin.

  • Epidermolysis bullosa

Jenis penyakit kulit ini menyebabkan kulit menjadi rapuh dan gampang melepuh. Kulit terasa melepuh bahkan hanya dengan terkena panas, menggosok-gosok atau menggaruk kulit. Penyakit kulit ini juga diturunkan secara genetik dan paling sering muncul pada masa bayi atau anak-anak. Sama seperti jenis penyakit kulit langka lainnya, hingga saat ini jenis penyakit kulit ini belum dapat disembuhkan. Namun, pada jenis yang ringan, gejalanya dapat membaik seiring bertambahnya usia.

  • Exfoliative ichthyosis

Jenis penyakit kulit ini juga merupakan kondisi yang diturunkan, gejalanya kulit sering terkelupas secara tiba-tiba tanpa penyebab namun tidak terasa perih. Gejala ini berupa rasa gatal dan bercak merah pada kulit, tubuh yang pendek, dan rambut baru yang gampang dicabut. Besarkan luar keterlibatan kulit, kondisi ini dibagi menjadi dua macam, yaitu melibatkan kulit seluruh tubuh dan yang hanya melibatkan kulit tangan serta kaki saja.

Jenis penyakit kulit ini juga merupakan penyakit seumur hidup sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Penanganan yang dapat dilakukan hanyalah menggunakan pelembap kulit terutama setelah mandi saat kulit masih lembap.

Hindari Penyebab Fibrosis Paru agar Tidak Semakin Parah

Sudah pernah dengar fibrosis paru? Penyakit yang menyerang paru-paru ini dapat menyebabkan sesak napas hingga gagal napas pada penderitanya. Fibrosis paru terjadi karena adanya jaringan parut yang tumbuh pada paru-paru, yang mana ia tidak dapat dihilangkan atau disembuhkan.

Penyebab pasti fibrosis paru ini juga tidak diketahui. Walaupun begitu, para peneliti percaya bahwa paparan bahan kimia, merokok, infeksi, faktor genetik, dan aktivitas kekebalan tubuh seseorang, dapat menjadi pemicu fibrosis paru. Ada kalanya di mana sebagian besar kasus, penyebab penyakit ini tidak diketahui. Kondisi ini dikenal dengan fibrosis paru idiopatik.

Penyebab fibrosis paru

Faktor-faktor berikut dipercaya dapat memicu fibrosis paru:

  • Infeksi

Adanya infeksi pada paru yang disebabkan oleh bakteri atau virus, seperti hepatitis C, herpes, dan adenovirus.

  • Obat-obatan

Jika seseorang sedang dalam proses pemulihan dan mengonsumsi beberapa jenis obat tertentu, hal ini dapat meningkatkan risiko terjangkit fibrosis paru. Obat-obatan yang diduga dapat menimbulkan reaksi ini, antara lain obat kemoterapi (siklofosfamid), antibiotik (nitrofurantoin dan sulfasalazine), obat jantung (amiodarone), dan obat biologis (adalimumab atau etanercept).

  • Faktor genetic

Faktor genetic juga berperan sebagai penyebab fibrosis paru. Setidaknya 10-15% orang yang memiliki riwayat fibrosis paru dalam keluarganya, dapat juga terjangkit fibrosis paru. Kondisi ini disebut dengan fibrosis paru keluarga (familial pulmonary fibrosis) atau pneumonia interstisial keluarga (familial interstitial pneumonia).

  • Idiopatik

Apabila seseorang menderita fibrosis paru, namun tidak diketahui secara tepat penyebabnya, maka dapat dipastikan, bahwa orang tersebut memiliki kondisi fibrosis paru idiopatik atau Idiopathic Pulmonary Fibrosis (IPF).

  • Penyakit autoimun

Penyakit autoimun adalah sebuah kondisi, yang mana sistem kekebalan tubuh malah berbalik menyerang diri sendiri. Kondisi autoimun yang dapat memicu fibrosis paru, antara lain lupus, polimiositis, dermatomiositis, vaskulitis, rheumatoid arthritis, dan skleroderma.

  • Lingkungan

Lingkungan sekitar tempat beraktivitas dan bekerja ternyata juga dapat memicu fibrosis paru. Jika seseorang terkena paparan bahan kimia atau asap rokok secara intensif dan dalam jangka waktu yang panjang, maka ia berisiko terkena fibrosis paru. Paparan lain, seperti serat asbes, butiran debu, gas tertentu, radiasi, dan debu silika, juga perlu diwaspadai.

Siapa saja yang dapat terjangkit fibrosis paru?

Pada umumnya, siapa saja dapat terkena fibrosis paru. Namun, faktor-faktor di bawah ini, perlu diwaspadai karena memiliki risiko terjangkit fibrosis yang lebih tinggi:

  • laki-laki
  • seseorang yang berusia 40-70 tahun
  • memiliki kebiasaan atau riwayat merokok
  • memiliki riwayat fibrosis paru dalam keluarga
  • mengonsumsi obat-obatan tertentu
  • dalam proses pengobatan kanker, khususnya radiasi pada daerah dada
  • bekerja di lingkungan yang berisiko, seperti konstruksi, pertanian, dan tambang
  • memiliki gangguan autoimun.

Bagaimana mengatasi fibrosis paru?

Sampai sekarang, belum tersedia pengobatan fibrosis paru yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara efektif. Namun, dokter umumnya akan menyarankan pasien untuk melakukan rehabilitasi paru-paru. Dengan cara pengobatan ini, pasien akan belajar bagaimana mengatur napas lebih mudah.

Dalam kasus tertentu, dokter juga akan merekomendasikan pasien untuk melakukan transplantasi paru-paru bagi pasien yang berusia di bawah 65 tahun dan memiliki indikasi penyakit lain.