Mengenal Sejarah 3M Indonesia dan Produk-produknya

Sejarah 3M Indonesia

PT 3M Indonesia merupakan anak perusahaan dari 3M Worldwide. 3M sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri, infrastruktur, ritel dan lainnya. Menggunakan bermacam-macam teknologi, 3M melayani pelanggan dan masyarakat dengan produk dan layanan yang inovatif. masing-masing dari 7 bisnis tersebut telah masuk ke posisi pemimpin pasar global.

Kantor 3M Indonesia beralamat di Perkantoran Hijau Arkadia Tower F, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. 3M telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1975 hanya dengan 3 karyawan. Seperti banyak cabang 3M lainnya di seluruh dunia, 3M Indonesia didirikan untuk membawa berbagai produk 3M dan layanan untuk pasar lokal. Tahun 1980, fasilitas manufaktur asli di Cibinong direlokasi ke fasilitas manufaktur baru di Tambun, Bekasi. Kantor penjualan dan administrasi berlokasi di daerah bisnis Jakarta Pusat sampai tahun 1998, yang kemudian dikonsolidasikan dengan lokasi pabrik di Bekasi. 3M Indonesia juga memiliki kantor cabang yang berlokasi di Surabaya.

Strategi 3M Indonesia

Tahun 2016, 3M Indonesia mengadopsi pendekatan organisasi yang berpusat pada permintaan pasar untuk meningkatkan daya saing, efisiensi operasional, dan mempermudah skala bisnis perusahaan. Pendekatan ini sejalan dengan upaya untuk mengarahkan perusahaan mencapai kesuksesan jangka panjang dengan memperkuat portofolio, kemampuan penelitian dan pengembangan, serta proses bisnis. 3M Indonesia ingin lebih fokus terhadap kebutuhan konsumen loyal. Untuk mencapainya, 3M Indonesia saat ini memiliki empat kelompok bisnis, di antaranya: Keselamatan & Industri, Transportasi & Elektronik, Kesehatan, dan Konsumen.

Kombinasi ini memungkinkan 3M Indonesia untuk memantau dan mengendalikan penggerak utama perekonomian dan menentukan strategi investasi terbaik dengan menggunakan portofolio 3M yang sesuai. Misalnya, Keselamatan & Industri didorong oleh spesifikasi produk besar dalam organisasi sektor swasta, di mana kebijakan industri dan ekspor barang menjadi penggerak pasar yang utama. Lalu Infrastruktur, Konstruksi, dan Energi berbasis pada proyek-proyek besar yang diatur dalam peraturan pemerintah untuk menggunakan produk dengan spesifikasi tertentu, sehingga pengajuan penawaran (tender) sesuai dengan pemerintah.

Perawatan & Kesehatan berfokus pada rumah sakit, klinik, dokter gigi dan menjadi media utama untuk mengomunikasikan bahwa produk yang dipasarkan 3M Indonesia memiliki nilai tambah sendiri. Sedangkan Kelompok usaha Konsumen merupakan produk yang diproduksi 3M dan bisa dibeli di supermarket, apotek, toko perangkat keras, dan tempat peralatan rumah yang memudahkan pembeli menemukan produknya. Kombinasi bisnis ini relevan dengan 3M dan Indonesia karena pemerintah sedang memfokuskan diri pada rencana strategis yang mencakup promosi industri otomotif, investasi pembangunan jalan raya, dan memperluas cakupan bidang kesehatan dan perawatan.

Produk 3M Indonesia

Anda bisa menemukan produk 3M Indonesia secara online di distributor resmi dan beberapa marketplace. Produk 3M dikelompokkan menjadi 7 kategori besar, antara lain:

  1. Produk Otomotif
  2. Produk Rumah & Kantor
  3. Produk Perawatan Kantor
  4. Produk Kesehatan
  5. Produk Manufaktur & Industri
  6. Produk Alat Keselamatan
  7. Produk Paket Hemat

Masing-masing kategori tersebut terbagi lagi menjadi beberapa subkategori sesuai dengan jenis aplikasinya, seperti masker medis, alat-alat kesehatan, produk perawatan wajah dan tubuh, serta alat perlengkapan kantor. Semuanya disesuaikan dengan mengikuti kebutuhan pasar dan konsumen.

Terlepas dari semua perubahan yang terjadi dalam pasar bisnis di dunia, 3M Indonesia akan berfokus untuk memajukan bisnis yang sejalan dengan rencana pengembangan pemerintah Indonesia sambil mengembangkan dan memperkuat internal perusahaan, menerapkan pendekatan perusahaan berbasis market-centric, dan selalu menerapkan sains dan inovasi untuk membuat dampak nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Obat Ranitidine untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Obat ranitidine

Obat ranitidine merupakan obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Ranitidine mengobati sejumlah penyakit, seperti tungkak lambung, gastroesophageal reflux disease (GERD), esofagitis erosif, atau sindrom Zollinger – Ellison. 

Penyakit-penyakit tersebut berkaitan dengan produksi asam lambung berlebih. Lalu bagaimana dengan keamanannya bagi ibu hamil dan menyusui?  

Ranitidine bagi ibu hamil dan menyusui

Dalam kondisi tertentu ranitidine diperbolehkan dikonsumsi ibu hamil dan menyusui. Untuk mengetahui kapan kondisi aman untuk mengonsumsinya, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai keamanan ranitidine bagi ibu hamil dan menyusui : 

  1. Ibu hamil

Berdasarkan US Food and Drug Administration (FDA), ranitidine masuk dalam kategori B bagi ibu hamil. Artinya, pernah dilakukan penelitian pada hewan dan hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada risiko yang ditimbulkan. Akan tetapi, tidak dilakukan penelitian langsung ke ibu hamil. 

Pada dasarnya, selama kehamilan disarankan untuk mengobati penyakit tanpa mengonsumsi obat-obatan. Dokter mungkin akan meringankan gejala asam lambung dengan cara membatasi makanan berlemak tinggi dan pedas. Dokter juga akan menyarankan tidur dengan posisi kepala naik setinggi 10-20 cm sehingga lebih tinggi dari posisi perut. Cara ini diharapkan menghentikan asam lambung naik ke tenggorokan. 

Akan tetapi, jika cara-cara tersebut tidak berhasil, obat seperti ranitidine mungkin akan diresepkan.  

  1. Ibu menyusui

Obat ranitidine diketahui dapat meningkatkan kadar prolaktin pada ibu menyusui. Belum ada data tentang efek samping khusus bagi ibu menyusui. Akan tetapi, terdapat kadar ranitidine yang ikut keluar bersama ASI, namun dalam jumlah kecil dan tidak berbahaya bagi bayi. Jika bayi Anda prematur, konsultasikan kondisi Anda terlebih dahulu ke dokter.  

Sebuah studi menunjukkan dosis ranitidine pada ASI kurang dari dosis yang biasanya diberikan pada bayi baru lahir. Meskipun demikian pada tahun 2020 ranitidine dikeluarkan dari pasar Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya karena dinilai sebagai pemicu kanker. 

Efek ranitidine bagi penderita penyakit tertentu

Ranitidine tidak akan bekerja optimal bahkan menimbulkan efek samping buruk pada penderita penyakit tertentu. Berikut ini beberapa penderita penyakit tertentu yang tidak disarankan mengonsumsi ranitidine:  

  • Penyakit ginjal 

Penderita penyakit ginjal tidak dapat membuang sisa metabolisme obat ranitidine dengan baik. Kadar ranitidine yang tersisa di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai efek samping. 

  • Penyakit hati

Sebagian besar metabolisme obat terjadi di hati. Jika hati bermasalah, maka metabolisme ranitidine akan terganggu. Kadar ranitidine di dalam tubuh pun akan meningkat. 

  • Penyakit porfiria akut 

Penderita porfiria akut tidak diperbolehkan mengonsumsi ranitidine karena dapat memicu serangan porfiria akut berikutnya. 

  • Kanker lambung 

Ranitidine mengurangi kadar asam di dalam perut, namun berbeda halnya dengan penderita penyakit kanker lambung, meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan saluran pencernaan. Obat ini tidak mengobati kanker. 

Efek ranitidine bagi anak-anak dan lansia

Anak-anak dan lansia memiliki metabolisme berbeda dari tahapan umur lainnya. Berikut ini keamanan dan efektivitas ranitidine bagi anak-anak dan lansia. 

  • Anak-anak

Obat ranitidine belum dapat dipastikan aman dan efektif bagi anak-anak berusia di bawah 1 bulan untuk kondisi apapun. 

  • Lansia

Fungsi ginjal pada lansia berbeda dengan kondisinya saat masih muda. Oleh karena itu, metabolismenya pun melambat. Akibatnya, lebih banyak kadar ranitidine yang tertahan di dalam tubuh dalam waktu lama. Efek samping pun dapat meningkat. Dalam kasus yang jarang terjadi, ranitidine dapat menyebabkan kebingungan, agitasi, depresi, dan halusinasi. Efek samping tersebut paling sering terjadi pada lansia yang menderita penyakit kronis. 

Cataflam Tablet

Cataflam tablet merupakan obat yang dapat meredakan nyeri, peradangan, dan sendi kaku akibat artritis. Selain itu, obat tersebut juga dapat digunakan untuk meredakan sakit gigi, nyeri haid, dan nyeri akibat operasi.

Cataflam tablet merupakan salah satu obat yang hanya diperoleh melalui resep dokter, karena obat tersebut perlu digunakan dengan hati-hati. Obat tersebut mengandung kalium diklofenak dan digolongkan sebagai obat antiinflamasi (NSAID). Cataflam tablet dijual di pasaran dengan harga sekitar Rp 70.000,00 dan tersedia dalam kemasan 1 box yang berisi 5 strip sebanyak 10 tablet (50 mg). Obat tersebut diproduksi oleh Novartis.

Informasi Zat Aktif

Sesuai dengan proses kerja obat dalam tubuh, obat yang mengandung kalium diklofenak memiliki status berikut:

  • Absorpsi

Cataflam tablet dapat diserap dengan cepat dan pada sebagian besar tubuh. Namun, penyerapannya bisa ditunda oleh makanan.

  • Distribusi

Cataflam tablet dapat mengikat protein hampir 100 persen.

  • Metabolisme

Cataflam tablet dapat menjalani metabolisme jalur pertama dengan kadar 60 persen obat tidak mengalami perubahan ketika mencapai peredaran darah.

  • Ekskresi

Cataflam tablet dapat diekskresikan melalui urine sebanyak 40 hingga 60 persen.

Aturan Pakai

Jika Anda ingin menggunakan Cataflam tablet, Anda perlu gunakan obat tersebut sesuai arahan dokter. Berikut adalah dosis yang digunakan pasien:

  • Anak-anak

Dosis maksimal yang digunakan anak-anak (yang berusia 14 tahun ke atas) adalah 100 mg per hari.

  • Dewasa

Dosis yang digunakan orang dewasa ditentukan oleh kondisi berikut:

  • Nyeri dan osteoarthritis

Dosis yang digunakan untuk kondisi tersebut adalah 100 hingga 150 mg yang dikonsumsi dua hingga tiga kali per hari.

  • Migrain

Dosis awal untuk kondisi tersebut adalah 50 mg, dan konsumsi sebanyak 50 mg (2 jam setelah dosis awal). Jika perlu, Anda dapat menggunakan obat tersebut dengan dosis 50 mg pada interval 4 hingga 6 jam.

  • Rheumatoid arthritis

Dosis yang digunakan untuk kondisi tersebut adalah 225 mg per hari.

  • Spondylitis ankilosa

Dosis yang digunakan untuk kondisi tersebut adalah 125 mg per hari.

Anda perlu menelan obat tersebut secara utuh dan jangan dikunyah. Anda perlu menyimpan obat tersebut pada suhu di bawah 30 derajat Celsius dan jangan terpapar secara langsung oleh sinar matahari.

Efek Samping

Cataflam tablet dapat menimbulkan berbagai efek samping, antara lain sakit kepala, diare, maag, mual, muntah, asma, nyeri dada, dan hipertensi (tekanan darah tinggi).

Perhatian Khusus

Cataflam tablet tidak dapat dikonsumsi jika pasien memiliki kondisi berikut:

  • Alergi terhadap kalium diklofenak.
  • Riwayat alergi setelah menggunakan aspirin atau NSAID lain.
  • Hamil di trimester ketiga.
  • Luka pada dinding lambung atau usus.
  • Penumpukan plak di dalam arteri.
  • Gagal ginjal atau hati.
  • Gagal jantung.
  • Penyakit jantung iskemik.
  • Akan atau telah menjalani operasi bypass jantung.

Penggunaannya dengan Obat Lain

Cataflam tablet juga tidak dapat digunakan secara bersamaan dengan obat-obatan tertentu seperti:

  • Aspirin

Mengkonsumsi obat tersebut dengan aspirin dapat menimbulkan luka pada saluran pencernaan dan meningkatkan risiko perdarahan.

  • Kortikosteroid

Mengkonsumsi obat tersebut dengan kortikosteroid dapat menimbulkan luka pada saluran pencernaan dan perdarahan.

  • Diuretik

Mengkonsumsi obat tersebut dengan diuretik dapat menimbulkan kerusakan ginjal.

  • Phenytoin

Mengkonsumsi obat tersebut dengan phenytoin dapat menimbulkan keracunan pada tubuh.

Berkonsultasi dengan Dokter Terlebih Dahulu

Sebelum Anda mengkonsumsi Cataflam tablet, Anda perlu tanya ke dokter apakah obat tersebut aman untuk digunakan atau tidak. Setiap orang bisa mengalami efek yang berbeda pada tubuh.

Kesimpulan

Cataflam tablet merupakan salah satu obat yang dapat digunakan jika Anda mengalami nyeri akibat artritis. Meskipun demikian, Anda perlu perhatikan aturan pakai dan efek samping yang bisa timbul pada tubuh. Untuk informasi lebih lanjut tentang Cataflam tablet, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Natrium Diklofenak, Obat Apakah Itu?

Natrium diklofenak adalah obat yang digunakan untuk meredakan nyeri, bengkak (radang), dan kekakuan sendi yang disebabkan oleh artritis. Mengurangi gejala ini membantu Anda melakukan lebih banyak aktivitas normal sehari-hari.bat ini dikenal sebagai obat antiinflamasi nonsteroid.

Natrium diklofenak bisa dibeli bebas di apotek dalam berbagai merek, seperti Cataflam, Kaflam, dan Voltaren. Obat ini dapat dikonsumsi oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan dosis yang disesuaikan. Karena obat ini adalah obat yang bisa mengurangi peradangan dan nyeri. Obat ini bisa dipakai untuk beberapa penyakit, termasuk:

  • Rheumatoid arthritis, osteoartritis dan asam urat
  • Keseleo dan ketegangan pada otot dan ligamen
  • Sakit punggung
  • Ankylosing spondylitis, kondisi ini menyebabkan peradangan pada tulang belakang dan bagian tubuh lainnya
  • Sakit gigi
  • Migrain

Anda disarankan untuk minum tablet atau kapsul natrium diklofenak dengan makanan atau camilan, atau setelah makan. Selain itu, cara terbaik untuk mengkonsumsi natrium diklofenak adalah dengan dosis terendah dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk mengontrol gejala Anda. Tablet diklofenak juga diketahui sebagai kalium diklofenak atau natrium diklofenak, keduanya bekerja dengan baik untuk meredakan nyeri.

Anda biasanya akan mengkonsumsi tablet atau kapsul natrium diklofenak 2 hingga 3 kali sehari. Dosis standarnya adalah 75 mg hingga 150 mg sehari, tergantung pada resep dokter untuk Anda. Ikuti saran dokter Anda tentang berapa banyak tablet yang harus diminum, dan berapa kali sehari.

Jika dokter Anda meresepkan natrium diklofenak untuk anak Anda, mereka akan menggunakan berat badan anak Anda untuk menentukan dosis yang tepat untuk mereka. Jika Anda merasa sakit sepanjang waktu, dokter Anda mungkin merekomendasikan tablet atau kapsul natrium diklofenak rilis lambat. Biasanya meminumnya sekali sehari di malam hari, atau dua kali sehari. Jika Anda mengkonsumsi natrium diklofenak rilis lambat dua kali sehari, Anda harus memberikan jeda 10 hingga 12 jam di antara dosis Anda.

Mengkonsumsi terlalu banyak tablet atau kapsul natrium diklofenak bisa berbahaya. Hal ini dapat menyebabkan efek samping seperti:

  • Sakit perut
  • Merasa atau sedang sakit (muntah)
  • Diare
  • Kotoran hitam atau darah dalam muntahan Anda, tanda pendarahan di perut Anda
  • Sakit kepala
  • Kantuk
  • Dering di telinga Anda (tinnitus)

Jika Anda tidak sengaja mengkonsumsi terlalu banyak natrium diklofenak, segera hubungi dokter Anda. Jika Anda perlu pergi ke rumah sakit, bawalah paket atau brosur diklofenak di dalamnya ditambah sisa obat-obatan tersebut.

Natrium diklofenak termasuk obat yang aman jika dikonsumsi bersama dengan parasetamol atau kodein. Namun Anda disarankan untuk jangan mengkonsumsi natrium diklofenak dengan obat penghilang rasa sakit serupa seperti aspirin, ibuprofen atau naproxen, tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Natrium diklofenak, aspirin, ibuprofen dan naproxen semuanya termasuk dalam kelompok obat yang sama yang disebut obat antiinflamasi non steroid. Mengkonsumsi natrium diklofenak bersama dengan obat antiinflamasi non steroid lain dapat meningkatkan kemungkinan Anda mengalami efek samping seperti sakit perut.

Apa Itu Candesartan? Ini Penjelasannya

Merupakan salah satu obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah pada hipertensi dikenal dengan nama candesartan. Selain utnuk menurunkan tekanan darah, obat ini juga dipakai dalam pengobatan gagal jantung. Obat ini juga tersedia dalam bentuk tablet dengan ukuran 8 mg dan 16 mg.

Obat ini termasuk dalam golongan angiotensin receptor blockers (ARB) yang cara kerjanya dengan menghambat reseptor angiotensin II. Pada saart angiotensin II dihambat, pembuluh darah akan terus lemas dan melebar sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan tekanan darah akan menurun, atau melemaskan pembuluh darah sehingga darah bisa mengalir lebih mudah.

Cara Penggunaan Candesartan

Penggunaan obat ini harus sesuai dengan aturan yang diberikan oleh dokter atau apoteker sebelum memulai mengonsumsinya. Untuk lebih mengetahui detal terkait obat ini lakukan konsultasi dengan dokterb atau apoteker. Konsumsi obat ini bisa dengan atau tanpa makan terlebih dahulu, biasanya dokter menganjurkan sekali atau dua kali dalam sehari.

Dosis yang dipakai berdasarkan dengan kondisi kesehatan si pasien atau pengguna obat, dosis berbeda juga diperuntukkan untuk anak-anak tergantung dari berat badannya. Pemakaian obat ini secara rutin akan membuat pasien mendapatkan hasil terbaik, untuk mempermudah bisa dikonsumsi pada waktu yang sama dalam setiap harinya.

Pengobatan lanjutan penting untuk dilakukan meskipun pasien merasakan kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Pada kebanyakan kasus, orang yang memiliki tekanan darah tinggi tidak merasakan sakit dan proses pengobatannya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu hingga manfaat dari obat ini dirasakan.

  • Hipertensi

Dosis awal 15 mg secara oral, dikonsumsi sehari sekali dan dosis lanjutan sehari 8-32 mg bisa dikonsumsi sekali atau dua kali dalam sehari.

  • Gagal Jantung

Dosis awal diberikan sebanyak 4 mg oral sekali dalam sehari, dosis target sebanyak 32 mg sekali untuk sehari, untuk mencapai dosis ini bisa dengan menggandakan dosis dalam interval dua minggu atau berdasarkan toleransi pasien terhadap obat.

  • Untuk Anak

Anak degan usia kurang dari 6 tahun, dosis awal 0,20 mg suspensi oral dan dosis lanjutan 0,05 hingga o,4 mg sehari. Anak dengan usia 6-17 tahun dosis awal 4-8 mg oral sehari, dosis lanjutan 2-15 mg oral sehari. 

Penyimpanan Obat

Cara terbaik dalam menyimpan obat ini adalah dengan menempatkannya pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan jangan diletakkan pada tempat yang lembap. Sangat tidak dianjurkan menyimpannya di dalam kamar mandi dan jangan dibekukan. Meski begitu terdapat beberapa merek lain obat ini dengan aturan penyimpanan yang berbeda.

Selalu perhatikan instruksi penyimpanan yang tertera pada kemasan produk atau juga menanyakan pada apoteker dan dokter. Dan yang paling penting jauhkan obat-obatan ini dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan. 

Efek Samping Candesartan

Efek samping yang mungkin muncul saat mengonsumsi obat ini adalah alergi dengan beberapa tanda yang muncul, seperti gatal-gatal, kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah atau tenggorokan. Pada kasus yang jarang terjadi, obat ini bisa mengakibatkan kerusakan jaringan otot dan ginjal, berikut beberapa interaksi yang muncul dengan obat lain.

  • Meningkatnya risiko hiperkalemia, hipotensi dan kerusakan ginjal jika dikonsumsi penderita diabetes atau yang sedang mengonsumsi aliskiren.
  • Penurunan efek antihipertensi dari obat dan meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal jika digunakan dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) atau ace inhibitor seperti captopril.
  • Terjadi peningkatan kadar obat lithium di dalam darah dan meningkatnya risiko terjadinya hiperkalemia jika digunakan bersama obat golongan diuretik hemat kalium dan suplemen kalium.