Gejala dan Risiko Penyakit Epididimiris

  • June 5, 2020

Epididimitis adalah sebuah peradangan pada epididimis. Epididimis berbentuk seperti tabung yang terletak di belakang buah zakar yang menyimpan dan membawa sperma. Saat tabung ini membengkak, kondisi ini akan menyebabkan rasa sakit pada buah zakar. Epididimiris dapat menyerang pria tidak peduli usia mereka. Namun, kondisi ini lebih sering dijumpai pada mereka yang berumur 14 hingga 35 tahun. Epididimitis biasanya disebabkan infeksi bakteri atau penyakit seksual menular (STD). Kondisi ini akan membaik dan sembuh dengan penggunaan antibiotik yang teratur.

Epididimitis akut dapat bertahan hingga 6 minggu. Dalam kebanyakan kasus epididimitis akut, testis juga ikut meradang. Kondisi ini disebut dengan epididimo-orchitis. Sedikit sulit untuk mengetahui apakah testis, epididimis, atau keduanya yang meradang. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, epididimitis umumnya disebabkan karena gonore dan klamidia pada laki-laki berusia 35 tahun atau kurang. Sementara itu, epididimiris kronis dapat bertahan hingga lebih dari 6 minggu. Gejala yang muncul termasuk rasa tidak nyaman atau sakit pada skrotum, epididimis, atau testis. Hal ini dapat disebabkan oleh reaksi granulomatosa, yang dapat menyebabkan kista atau kalsifikasi.

Gejala dan faktor risiko epididimitis

Epididimitis dapat berawal dari beberapa gejala ringan. Saat kondisi ini dibiarkan dan tidak dirawat, gejala dapat berubah menjadi semakin parah. Orang-orang dengan penyakit epididimitis dapat merasakan demam, menggigil, rasa sakit pada daerah pelvis, tekanan pada testis, sakit pada testis, skrotum hangat dan memerah, kelenjar getah bening pada selangkangan yang membesar, rasa sakit saat berhubungan seks dan ejakulasi, rasa sakit saat buang air kecil atau besar, buang air kecil terus menerus, cairan urin yang tidak normal, dan sperma yang berdarah.

Penyebab utama epididimitis adalah penyakit seksual menular, terutama gonore dan klamidia. Akan tetapi, epididimitis juga dapat disebabkan oleh infeksi yang ditularkan secara non-seksual, misalnya infeksi saluran kemih atau infeksi prostat. Anda juga akan memiliki risiko lebih tinggi menderita epididimitis apabila Anda tidak sunat, melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, memiliki saluran kemih dengan gangguan structural, memiliki TBC, memiliki prostat yang membesar dan menyebabkan penyumbatan pada kandung kemih, baru saja mendapatkan operasi saluran kemih, menggunakan kateter kemih, dan dalam pengobatan obat jantung bernama amiodarone.

Penyakit menular seksual merupakan penyebab utama epididimitis. Gonore and klamidia menjadi penyumbang terbesar. Kedua infeksi ini akan menyebabkan sebuah infeksi di urethra. Infeksi tersebut juga akan turun dari vas deferens ke epididimis atau testis dan menyebabkan infeksi di sana. Infeksi menular non-seksual seperti infeksi kandung kemih atau TBC dapat menjalar dari urethra dan bagian tubuh lain untuk menyerang epididimis dan menyebabkan peradangan di sana.

Untungnya, kebanyakan kasus epididimitis dapat disembuhkan dengan penggunaan antibiotik. Biasanya juga tidak ada masalah reproduktif atau seksual jangka panjang. Namun, infeksi tersebut dapat datang kembali di masa depan. Selain itu, meskipun jarang ditemukan, komplikasi akibat epididimiris juga mungkin terjadi. Beberapa kemungkinan komplikasi tersebut di antaranya adalah epididimitis kronis, menyusutnya testis, fistula, kematian jaringan testis, dan kemandulan. Sangat penting bagi Anda untuk mendapatkan perawatan medis secepatnya ketika memiliki epididimitis guna menghindari komplikasi di kemudian hari. Setelah mendapatkan perawatan, penggunaan antibiotik wajib digunakan secara teratur meskipun Anda sudah tidak memiliki gejala apapun. Anda juga perlu menemui dokter ketika sudah mengonsumsi semua obat dan infeksi sidah hilang. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa Anda benar-benar terbebas dari epididimitis.